Melihat kondisi Teman – teman kita yang tengah menderita, diterpa lagi oleh kondisi sosial juga finansial yang semakin mencekik. Harga Kebutuhan melambung sangat cepat tanpa ada cara untuk menanggulanginya.
Selagi hidup menderita ditengah kesulitan mencari kerja, diterpa lagi harga – harga melambung. Menambah depresi untuk kalangan bawah,karena peningkatan pendapatan tidak ada. Muncul lagi masalah baru. Kesulitan menerima konversi dari minyak ke gas belumlah usai.
Jika dilihat masalah utama yang dihadapi rakyat adalah kebingungan untuk menyikapi kesulitan yang menerpanya. Jika sudah mendapatkan pendapatan ekonomi yang memadai, biarpun BBM naik labih tinggi mungkin rakyat tidak akan berisik seperti sekarang ini.
Dampaknya akan terlihat jelas ketika kita membaur dengan kalangan bawah. Seperti pedagang, pekerja kelas bawah, pengemudi taksi, angkot atau kawan – kawan lainnya. Mungkin bisa dijadikan bahan – bahan pembuktian, bahwa keputusan pemerintah menaikkan harga BBM menimbulkan banyak side effect yang negative buat kalangan bawah.
Apakah pemerintahan telah meyakini dengan menaikkan harga BBM berarti menolong rakyatnya, atau menaikkan harkat martabat bangsa? Jika memang begitu, keputusan pemerintah dalam hal ini teramat keliru.
Seharusnya pemerintahan menciptakan kemudahan lapangan pekerjaan atau membantu meningkatkan pendapatan keuangan rakyat (terutama di sektor riil) terlebih dahulu. Seperti menggiatkan kembali Padat Karya dengan membangun atau merenovasi kota – kota yang terlihat kusam. Ini akan menjadi kerja sama yang baik antar warga dan pemerintah. Jadi rakyatpun sudah memiliki tameng untuk menghadapi kenaikkan harga BBM.
Atau dengan membenahi lingkungan yang sudah rusak, semisalnya hutan – hutan yang telah hilang sebahagian. Benahi bukit – bukit yang rawan longsor. Benahi sungai – sungai yang kedang meluap dikala hujan. Banyak cara untuk membantu rakyat selain BLT.
BLT itu lebih banyak negativenya, seperti mendidik rakyat jadi tau, bahwa tidak kerja juga masih bisa mendapatkan uang. Saling iri satu sama lain jika pembagiannya tidak merata. Atau menimbulkan konflik dan kecelakaan ketika sedang dalam antree pengambilan dana BLT. Terjadi saling dorong, atau saling injak. Bagaimana bisa program ini bisa terus dipelihara oleh pemerintah.
Apakah pemerintahan tidak mengerti jika pengambilan dana BLT juga sering menimbulkan berbagai masalah dikalangan kawan – kawan rakyat. Mungkin Pemerintahan baru berfikir untuk mangkaji ulang jika BLT menuai masala besar. Atau konflik yang membesar dikalangan rakyat. Seperti yang sudah – sudah, akan ada tindakan jika sudah terjadi. Sayangnya pemerintah atau pengambil keputusan tidak pernah mau ada dibawah ketika sedang ada antree untuk pengambilan BLT. Mungkin ketika sedang dikontrol pejabat maka pembagian lancar.
Menyikapi program BLT. Tidak sepenuhnya didukung oleh para aparat desa, seperti yang terjadi dibeberapa daerah Jawa Tengah. Banyak perangkat desa menolak. Karena berakibat buruk buat rakyat.
Jika dilihat dari kondisi sekarang makakita tidak lagi punya kekuatan menolak atau menentukan sikap terhadap kondisi naiknya harga minyak dunia belakangan ini. Bukan karena tidak mampu menolak, tetapi tiada berkemauan seperti itu.
Sebenarnya siapa yang berkapasitas menentukan harga minyak. Minyak kita yang punya. Tanpa import kita juga bisa menggunakan minyaknya sendiri. Kenapa bukan bangsa Indonesia sendiri yang menentukan harga minyak kita? Jika mereka bilang mutu minyak kita rendah, kenapa harus dieksport kemereka? Jika tidak jual minyakpun kita masih punya tambang lain yang bisa kita jual?
Pemerintahan kita memang sangat kurang kedaulatannya. Bangsa Indonesialah yang seharusnya menentukan siapa penentu kebijakan minyak. Dimana kedaulatannya sebagai bangsa yang nota bene nya itu Merdeka? Malu mengakui kapasitas pemerintahan Indonesia dimata dunia masih lemah. Hingga mau disuruh menaikkan harga minyaknyapun oke? Padahal apa keuntungannya dengan mengikuti jejak mereka.
Solusi yang sebenarnya adalah menambang minyak kita sendiri, mengelolanya sendiri. Tanpa campur tangan pihak asing. Menasionalisasikan semua aset – aset energi tambang dan migas. Intinya Nasionalisasi semua aset – aset tambang dan Migas juga BUMN. Itu solusinya yang utama. Maka ketimpangan tidak akan meluas hingga sekarang – sekarang ini.
Bye : Jumadi Jaya, Masyarakat Miskin Kota. ( 0888 6127166 )
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



