(Salah satu fabel Pancatantra 1 oleh Pandit Vishnu Sharma, diceritakan kembali oleh G.L. Chandiramani, 2001: hal. 72)
Di sebuah danau tinggallah tiga ekor ikan bernama Anagatavidhata (memikirkan pemecahan masalah sebelum masalah itu muncul), Pratyutpannamati (memikirkan pemecahan masalah ketika masalah itu muncul), dan Yadbavishya (semata-mata memercayai keberuntungan).
Pada suatu hari, beberapa nelayan melewati danau itu. Mereka memerhatikan danau itu lalu salah seorang di antara mereka berkata, “kita belum pernah mencari ikan di danau ini. Lihat tuh, tampaknya banyak ikan di sini! Tapi hari ini kita telah menangkap banyak ikan dan lagi pula sekarang hari telah sore. Jadi, kita pulang saja dan besok kita kembali ke sini untuk menangkap ikan.” Nelayan-nelayan lainnya setuju.
Anagatavidhata yang mendengarkan percakapan mereka sangat ketakutan sampai diam terpaku bagai tersambar petir. Segera saja ia memanggil teman-temannya, ikan-ikan lain, untuk berkumpul. Pada mereka ia berkata, “kalian tentu mendengar apa yang dikatakan para nelayan itu. Kita harus segera bertindak. Mari kita pergi dari tempat ini dan mencari danau lain, karena:
Ketika bertemu musuh yang labih kuat,
langkah terbaik adalah lari,
atau bersembunyi,
tidak ada cara lain.
“Aku yakin, para nelayan itu besok akan kembali ke sini,” kata Anagatavidhata,” dan akan menangkap kita semua. Sebaiknya kita pergi dari sini, karena para arif bijaksana berpesan:
Mereka yang sebelum bencana,
segera mengungsi ke tempat yang aman,
akan terhindar dari kebinasaan,
diri sendiri, keluarga dan tanah mereka.
Pratyutpannamati menyepakatinya, “kamu benar! Mari kita pergi ke tempat lain, sebelum terlambat.”
Tetapi Yadbavishya tertawa terbahak-bahak dan berkata, “ah, kalian ini terlalu penakut. Aku tak setuju usulanmu. Tak pantas meninggalkan danau warisan nenek moyang kita ini hanya karena omongan nelayan-nelayan itu!”
“Kalian tahu”, lanjut Yadbavishya lagi, “kalau sudah waktunya mati, kematian itu pasti datang. Di mana pun kita berada. Aku ingatkan:
Dia yang mujur,
walaupun tanpa perlindungan,
terhindar dari kehancuran.
Tapi dia yang sudah bernasib sial,
tetap saja ditimpa kemalangan,
meskipun dilindungi dengan baik.
“Kesimpulannya,” kata Yadbavishya, “aku tak akan ikut dengan kalian, tapi silakan saja lakukan yang kalian anggap terbaik.”
Anagatavidhata yang waspada segera meninggalkan danau bersama keluarganya sebelum para nelayan itu benar-benar datang.
Pagi-pagi berikutnya, Pratyutpannamati melihat nelayan-nelayan itu datang dari jauh. Dia segera mengumpulkan keluarganya dan mengajak mereka meninggalkan danau tersebut saat itu juga.
Setiba di danau, para nelayan itu melemparkan jalannya dan menangkap semua ikan. Semuanya mati menjadi santapan atau barang hasil jualan nelayan. Termasuk Yadbavishya.
***
“Begitulah” kata burung tittibha betina,
Dia yang memikirkan asal-muasal masalah,
sebelum masalah itu terjadi,
akan selamat.
Dia yang segera mengambil tindakan tepat,
ketika masalah menimpanya,
juga akan selamat.
Namun, ia yang hanya bergantung pada keberuntungan,
akan hancur musnah.
“Namun, istriku,” sahut burung tittibha jantan, “apakah engkau mengira aku sebodoh Yadbavishya? Sebentar lagi engkau akan melihat keahlianku mengeringkan laut ini!”
“Engkau ini ngelantur atau tidak waras!” seru istrinya, marah. “Bagaimana mungkin engkau bisa melawan laut! Aku ingatkan sebuah wasiat:
Percumalah kemarahan orang yang lemah,
karena hanya akan mnyakiti dirinya sendiri.
Dan,
dia yang menyerang musuh,
tanpa mengetahui kekuatannya,
akan musnah seperti ngengat ditelan api.
“Tapi, istriku tersayang,” bantah tittibha jantan, “jangan berbicara seperti itu! Biar pun kecil, asal bersemangat, aku akan dapat mengalahkan musuh yang paling kuat sekali pun. Kata orang:
Seekor gajah bisa dikuasai dengan sebatang galah,
apakah sebatang galah sebesar gajah?
Saat lampu dinyalakan, kegelapan lenyap,
apakah lampu sebesar kegelapan?
Saat kilat disertai petir, meruntuhkan gunung,
apakah kilat disertai petir sebesar gunung?
Orang dengan semangat juang adalah orang yang kuat.
Besar kecil ukuran bukan penentu.”
“Jadi,” kata tittibha jantan, “aku akan mengeringkan laut dan menyedotnya dengan paruhku.”
“Suamiku tercinta,” kata istrinya berusaha menenangkan, “mana bisa engkau menyedot laut jika Sindu (sungai Indus), Gangga (sungai Gangga), dan seratus sungai lainnya mengalir ke dalamnya. Apa manfaatnya engkau membual?”
“Istriku”, jawab tittibha jantan, “paruhku sekuat besi. Kenapa aku tak bisa menyedot laut, jika bekerja siang-malam? Seorang harus berusaha kalau ingin berhasil.”
“Duh, suamiku yang malang,” keluh tittibha betina, “kalau engkau benar-benar ingin melawan laut, ajaklah burung-burung lain dan terimalah bantuannya, sesuai pesan leluhur:
Kekuatan kecil yang bersatu,
tak bisa dikalahkan.
Rumput-rumput yang dijalin menjadi tali yang tebal,
dapat mengikat seekor gajah.
Begitulah, dengan bekerja bersama-sama,
seekor burung pipit, burung pelatuk, lalt, dan kodok,
mengalahkan seekor gajah.
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



